07 January 2017

Kisah Nabi Muhammad SAW Sebagai Ulul Azmi

Advertisement
Allah SWT berfirman yang artinya: bersabarlah engkau (muhammad) sebagaimana Rasul-rasul ulul Azmi. Dan dalam suerat Al baqarah ayat 55 Allah SWT menjelaskan yang artinya:Rasul-rasul itu kami lebihkan sebagian yang lain, sebagian yang lain di antara mereka ada yang Allah berkata-kata langsung dengan dia dan sebagian Allah meninggikan beberapa derajat.

Nabi Muhammad SAW Sebagai Ulul Azmi

Lima abad setelah kelahiran nabi Isa as pengaruh ajaran yang di bawanya sudah mulai memudar, banyak manusia yang menjadi fasiq bahkan kafir kembali sesudah beriman, maka saat itulah Allah SWT berkenan mengirimkan calaon utusannya yang terakhir yaitu nabi muhammad SAW bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Beliau lahir pada hari senin 12 Rabiulawal tahun 571 M. Saat itu bersamaan dengan di serangnya mekkah Al Mukarromah oleh raja Abrahah dengan tentara gajah untuk menghancurkan ka’bah, sehingga tahun kelahiran nabi Muhammad di sebut juga dengan tahun gajah.

Kisah Nabi Muhammad SAW Sebagai Ulul Azmi

Semenjak kelahirannya, nabi Muhammad telah kehilangan kasih sayang dari ayahnya, lalu ketika berumur 6 tahun ibunya juga meninggal, lalu di asuh oleh kakeknya selama dua tahun karena meninggal juga,  sehingga semenjak umur delapan tahun hidupnya di penuhi dengan kepedihan,  kesedihan, kesengsaraan, dan kehilangan kasih sayang dari orang-orang yang paling di cintainya, keadaan seperti itulah justru yang mengantarkannya menjadi orang yang sopan santun, sabar, dan tabah serta menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan serta amat peduli terhadap orang-orang miskin.

Semenjak umur 8 tahun ia di bawah asuhan pamannya Abu Thalib, ia bekerja sebagai pengembala kambing, suatu pekerjaan yang sangat memerlukan perhatian yang penuh ketekunan dan kesabaran, sesudah agak dewasa di perkenalkan dengan dunia dagang oleh pamannya ke Negri Syam. Pada saat perjalanan musyafirnya itu Allah SWT memperlihatkan Irhas atau tanda-tanda kenabiannya yakni awan senantiasa menaungi perjalalnan kenabian yang ada pada muhammad itu, maka segera kembali saja agar tidak di siksa oleh kaum Yahudi, maka kembali lah ia bekerja sebagai pengembala kambing itu.

Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW mulai nampak setelah beliau berumur 15 tahun, telah ikut sert dlam suatu perang  Harbul Fijr, yaitu perang membela kesucian bulan-bulan Dzulkaidah, Dzulhijjah muharram dan Rajab, suku Quraisy dengan panglima perang Qois melawan suku kinanah dengan panglima Albian, di samping itu beliau juga terlibat dalam penyusunan perjanjian Hilful Fudhul yakni perjanjian yang mengikat antara beberapa kabilah di kota mekah untuk saling membantu dalam menghadapi gangguan keamanan, perampokan, penganiayaan, dan pemerasan dari pihak luar.

Dalam usia 25 tahun mulailah Muhammad SAW menambah dunia ekonomi dan perdagangan, ternyata beliau cukup sukses dan menjadi orang kepercayaan pengusaha yang besar, dan dikenal dengan sebutan Atla Thahirah, karena keagungan dan terkenal suci menjaga kehormatan dirinya yaitu Khadijah binti Khuwailid, yang berusia 40 tahun, perkenalannya dengan Khadijah ini dirintis oleh Abu Thalib pamannya Nabi, dan akhirnya membuahkan pernikahan yang membahagiakan.

Baca Juga: Cara Turunnya Wahyu Kepada Nabi Muhammad SAW

Pada usia 35 tahun ia memperoleh predikat Al Amin, karena kebijakannya dalam mendamaikan sengketa pemasangan kembali hajar Aswad pada tempat asalnya. Latar belakang kehidupan dan melihat kondisi masyarakatnya yang kelam penuh dengan kebodohan, syrik, tahayul, dan khurafat serta kekerasan dan kekejaman kaumnya, menjadikan dirinya suka menyendiri  (berthahanuts) ke Jabal Nur di Gua Hira 3 mil sebelah utara kota mekah.

Di bulan rhamadhan pada usia 40 tahun wahyu Allah SWT di turunkan kepada Nabi Muhammad SAW yakni surat Al-Alaq 1-5, kini Nabi Muhammad SAW tidak hanya seorang suami dari Khadijah tetapi telah di angkat oleh Allah sebagai seorang Rasul Ulul Azmi Allah SWT.

Author Profile

About Taufiqurrahman

0 Komentar Kisah Nabi Muhammad SAW Sebagai Ulul Azmi

Post a Comment

Back To Top